Film

Review Film Balik Jakarta 2017

film pendek Kembali ke Jakarta

Ekstratime.com – Film pendek Balik Jakarta bercerita tatap muka WNA asal Jerman dengan seorang tukang ojek asal Medan. WNA asal Jerman yang namanya Guenther itu tiba bawa selembar photo rumah periode kecilnya di wilayah Kebayoran dan minta kontribusi Togar untuk bersama cari rumah itu. Tiada alamat rumah yang komplet, mereka mengawali visi tidak mungkin di Jakarta yang telah jauh berbeda dari akhir kali Guenther memijakan kaki di Jakarta.

Kerjasama Dengan Kedutaan Besar JermanProyek film pendek “Balik Jakarta”, yang diinisiasi oleh Kedutaan Besar Republik Federasi Jerman, diawali tanpa narasi yang nyata. Waktu tatap muka pertama dengan Alexander Thielitz dari faksi kedutaan, kami semakin banyak menyamai misi serta visi yang pengin diraih oleh film ini.

Benar-benar, film pendek terbaik ini cuman diawali dengan satu inspirasi landasan untuk bikin satu film pendek yang dapat bercerita pertemanan Jerman dan Indonesia di kehidupan setiap hari.

Sikap Kedutaan Besar Jerman terang. Awalannya kami memang sempat bingung bermaksud dan arah project ini. Apa sebagai landasan satu lembaga negara ingin memberi dana untuk satu film pendek. Sesudah terlibat perbincangan lebih jauh, pada akhirnya kami pahaminya.

Kedutaan Jerman pengin memberikan jika kehadirannya di Indonesia bukan hanya untuk mengurusi visa dan kepentingan-urusan bau jalinan politis saja, tetapi memberikan ada kerjasama dengan seniman-seniman muda di Indonesia, dalam masalah ini pembikin film.

Narasi Mengenai RumahKami juga bersama mengeruk peluang-kemungkinan narasi. Bersama faksi kedutaan, kami membrainstorm fragmen-fragmen peristiwa yang kemungkinan dirasakan oleh WNA Jerman di Jakarta. Kami memuat beberapa ide-ide memikat, seperti narasi mengenai sepakbola, sampai tukang ojek di kota yang dipenuhi dengan sepeda motor ini.

Premis Film Balik Jakarta

film balik jakarta

Dari fragmen-fragmen itu, kami memprosesnya jadi satu narasi. Premis yang pada akhirnya kami gunakan dalam film “Balik Jakarta” ialah premis kesekian yang kami olah. Beberapa ide yang pertamanya kali tampil tidak menceritakan mengenai WNA asal Jerman yang cari rumah periode kecilnya, tetapi bermacam cerita-cerita lain seperti penelusuran mengenai asal mula.

Baca:  Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga 2020

Tatap muka untuk tatap muka berakhir dan pada akhirnya kami mendapati narasi yang pada akhirnya difilmkan. Narasi ini diputuskan sebab beberapa fakta. Pertama, narasi ini dipandang sanggup bercerita pertemanan ke-2 negara dengan imbang.

Ke-2 , narasi ini sanggup memfoto perombakan Jakarta yang demikian cepat dalam dua puluh tahun akhir. Ke-3 , narasi ini dipandang sanggup memfoto keadaan Jakarta terbaru selaku satu kota metropolitan yang bukan hanya mempunyai segudang permasalahan, dan juga banyak kekuatan.

Sikap Mengenai ToleransiIsu toleransi terus penting untuk diulas. Bukan hanya di Indonesia, negara yang beberapa waktu terakhir dihajar ujian buat menjaga keberagaman, dan juga di beberapa penjuru dunia lain, yang diikuti dengan bertambahnya peraturan populis di kelompok kepala negara. Akhirnya, kami rasa sangat penting bercerita pertemanan dua bangsa dalam ukuran yang imbang.

Dalam satu tatap muka pra-produksi, Jason Iskandar si sutradara mengutarakan visinya. Waktu itu dia menjelaskan kemauannya untuk bawa film ini bukan hanya selaku film mengenai Jerman dan Indonesia, dan juga film mengenai jalinan 2 orang manusia.

Dia pengin film ini memfoto 2 orang ‘citizen of the world’ yang sama-sama menyelisik budaya dan rutinitas keduanya, sebelumnya terakhir pahami jika kita punyai banyak kesamaan selaku manusia.

Visi film ini ialah memberikan jika kita tinggal di dunia tiada batasan. Kita perlu ingat, jika kita menyaksikan potret bumi di luar angkasa, kita tidak menyaksikan garis-garis batasan. Kita tinggal di lokasi yang sama dan oleh karenanya sangat penting untuk ingat kembali lagi kesamaan-persamaan kita selaku manusia.

Kita tinggal di saat-saat di mana traveling lintas benua sudah jadi hal yang wajar, oleh karenanya mengulas kemurnian darah dan lalu mengelompokan kita versus mereka tidak berkaitan kembali.

Sudah Diputar di 15 Kota di Indonesia Film ini diputar pertama di Jakarta. Berada di Goethe Haus pada tanggal 27 Oktober 2016, pemutaran pertama film ini berjalan semarak dengan kemampuan 300 bangku terisi penuh. Pemutaran pertama ini didatangi oleh Duta BEsar Jerman untuk Indonesia, Michael Freiherr von Ungern-Sternberg dan istri, dan staf-staf Kedutaan. Ikut datang juga beberapa aktor dan crew film Balik Jakarta.

Baca:  The Old Guard Sinopsis Netflix

Sepanjang enam bulan periode penyiaran, film Balik Jakarta sudah diputar lebih dari 15 kota. Beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Malang, sampai New York sudah memutar film ini. Bekerja bersama dengan komunitas-komunitas film di tempat, film ini sanggup melipur penonton-penonton dan membuat mereka kangen dengan rumah.

Simpulan Ini ialah pertama kali kami bekerjasama dengan lembaga negara lain. Bila umumnya kami bekerja bersama dengan merek, karena itu kesempatan ini cukup berlainan, hingga rintangannya juga berlainan.

Tapi karena misi yang serupa semenjak awalnya, project ini bisa berjalan baik. Kerjasamanya juga sangat terasa cair. Dalam project ini, kami benar-benar rasakan kelonggaran untuk berkreasi dan mendalami bermacam faktor, dimulai dari narasi sampai pendekatan visual.

Film Balik Jakarta merupakan film Kedutaan Besar Republik Federasi Jerman Jakarta

film balik jakarta

Film Balik Jakarta ialah project film pendek yang diinisiasi oleh Kedutaan Besar Republik Federasi Jerman Jakarta, dengan kerjasama bersama Studio Antelope dan disokong oleh PT. Jalan keluar Data Berdikari. Arah project ini ialah bercerita Jakarta secara apa yang ada tanpa watak-karakter yang riil. Film pendek ini mempunyai tujuan untuk memberi bagian narasi sehari-harinya di Jakarta.

Film pendek yang dicatat dan disutradarai oleh Jason Iskandar ini bercerita Togar (Yoga Mohamad), seorang sarjana pengangguran yang habiskan waktunya jadi supir ojek. Satu saat dia berjumpa dengan Günther, seorang wisatawan Jerman yang tiba bawa selembar photo rumah periode kecilnya di wilayah Kebayoran. Cuman bermodalkan photo itu, Günther minta bantuan Togar untuk cari rumah itu. Tetapi sudah pasti, kota Jakarta yang berbeda dengan cepat mempersulit usaha mereka.