Film

Review Film I’m Thinking of Ending Things 2020

I'm Thinking of Ending Things rekomendasi film terbaik 2020

Ekstratime.com Terang-terangan, saya sampai melihat 2x, bekerja keras pahami pesan film I’m Thinking of Ending Things. Plot yang mengucur membuat bingung. Itu kesan-kesan pertama yang saya alami melihat jenis film thriller psikis kreasi sutradara Charlie Kaufman.

Teguran keras, pembahasan film ini penuh spoiler. Opsi pembaca untuk meneruskan atau mungkin tidak melanjutkan artikel ulasan ini.

Eksperimen pertama, saya berasa pengin selekasnya mengakhiri jalinan ‘aneh’ di antara indera pandangan dan pendengaran dengan film ‘absurd’ itu. I’m Thinking of Ending Things, sama seperti judulnya.

Di lain sisi, saya masih ingin tahu untuk mengikut episode untuk episode. Kembali lagi untuk sebatas pahami pesannya. Juga bisa sebab kecewa jebakan-jebakan keadaan seram atau thriller. Satu masalah aneh yang saya alami.

Saya juga memilih untuk memutar ulangi filmI’m Thinking of Ending Things. Tetapi, nampaknya usaha untuk pahami intensi dari si sutradara film masih percuma.

Dalam batin saya kembali, kemungkinan type pemirsa seperti saya yang menyukai bertaruh di tiap episode untuk menerka ceritanya, begitu pemula pahami pesan I’m Thinking of Ending Things.

Kemungkinan tidak akan berlangsung untuk mereka yang pernah membaca novel Iain Reid. Film ini diambil dari novel Reid dengan judul yang serupa.

Latar musik kedengar muram dan ‘dingin’ memulai film itu, dibarengi cerita suara wanita dengan suara datar. Lucy, si wanita itu menceritakan mengenai pengalaman bersama Jake pergi bertandang untuk pertama kali ke rumah orangtua pacarnya itu ke tepian kota kecil, Tulsey Town.

Dalam film I’m Thinking of Ending Things, Lucy dimainkan oleh artis Jessie Buckley dan Jake dimainkan oleh artis Amerika Serikat, Jesse Plemons.

I’m Thinking of Ending Things: Kebimbangan Lucy dengan Jake

Film I'm Thinking of Ending Things

Ketangkap seperti kebimbangan masalah jalinan yang dirasakan Lucy di awal mula film I’m Thinking of Ending Things. Seringkali ia bergumam pengin selekasnya menyudahinya. Jalinan Lucy dan Jake baru saja berjalan seputar tujuh minggu.

Kemungkinan belum nampak keganjilan waktu Lucy menunggu jemputan mobil Jake untuk perjalanan panjang ke rumah orangtua Jake. Tetapi, saya menyaksikan sedikit ada keganjilan saat episode berbeda. Seorang pria tua yang cuman terlihat punggung, tengah melihat Lucy dari jendela.

Lucy balik memperhatikan jendela flat itu dengan tatapan ‘interogatif’. Sejurus selanjutnya figur pria tua itu bertukar jadi lelaki yang semakin lebih muda, tengah melihat ke luar lewat jendela. Kejanggalan lain saat Lucy bergumam dalam hati di perjalanan ke arah tujuan seakan dapat kedengar oleh Jake.

Baca:  Marsha Timothy Cerikan Suasana Syuting Film Asih 2

Begitupun saat Lucy berjumpa orangtua Jake di tempat tinggalnya. Ayah dan ibu Jake seperti sangat enggan dan takut dengan si anak. Ada satu keadaan saat ibunda Jake sangat waspada melemparkan lelucon ke anaknya sendiri. Ia seperti tidak ingin menyentuh hati anaknya.

Belum juga kondisi orangtua Jake yang tiba-tiba berbeda dari 1/2 baya, jadi benar-benar tua, selanjutnya muda. Perombakan itu berlangsung dengan set waktu dan lokasi yang sama. Ada juga episode saat si ayah sangat susah ingat suatu hal seperti pasien demensia. Ada kembali kejanggalan lain saat Jake beralih-alih panggil nama pacarnya dalam beberapa episode: Lucy, Louisa, Lucia, sampai Amy.

Empat figur dalam film I’m Thinking of Ending Things itu seakan satu pikiran yang serupa. Watak mereka seperti berawal dari pemikiran seorang lelaki tua. Figur pria tua petugas kebersihan sekolah memang seringkali sempat ditampilkan dalam plot sisipan di film ini.

Lelaki tua ini lah yang pada beberapa akhir narasi jadi kunci narasi film itu. Singkat kata watak Jake, Lucy, ayah dan ibu Jake, adalah angan-angan dari figur lelaki tua petugas kebersihan sekolah.

Cerita Novel Iain Reid

Film I'm Thinking of Ending Things

Tanpa mengenali narasi dari novel Reid, kemungkinan kita kesusahan pahami tujuan film itu. Bekasnya bak episode-adegan dan jalur enigmatik yang susah sekali dimengerti. Terhitung episode-adegan saat Jake muda menari dengan Lucy muda di sekolah.

Episode Jake tua menusuk Jake muda dengan pisau, mewujud dalam satu tarian juga. Ada pula scene saat Jake dewasa yang nampak berhasil menyampaikan pidato selaku yang menerima hadiah Noble. Belum juga diakhir narasi saat Jake tua pada kondisi bugil dibantu babi berupa animasi berjalan ke arah sekolah.

Rangkaiannya cukup memusingkan untuk dianyam jadi kesatuan arti yang utuh. Untuk saya individu, tidak ada opsi kecuali mengenali keterangan naratif novel Reid untuk minimal keluar dari kerusuhan pemikiran di film itu. Dalam novel Reid, pria tua itu dilukiskan selaku figur kesepian tanpa pasangan hidup.

Ia dikisahkan pernah jadi seorang mahasiswa biokimia yang sangat mencolok dan lakukan riset akademis. Pria itu selanjutnya tidak berhasil dalam profesinya sebab masalah psikis. Tekadnya untuk mendapatkan hadiah Noble dan beristri pasangan yang pandai yang elok, usai dalam suatu sekolah selaku tukang beres-beres.

Watak Lucy dalam film I’m Thinking of Ending Things itu juga adalah prediksi dari daya ingat gelap Jake belasan tahun lalu pernah mencintai seorang wanita dalam suatu cafe tetapi tidak dihiraukan. Sesaat watak ke-2 orang tuanya yang enggan dan takut, ialah imajinasi bagus Jake yang sering mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga.

Baca:  5 Film Pendek Terbaik 2020 Yang Gemparkan Indonesia

Dalam novel itu, Jake tua selanjutnya diceritakan akhiri hidupnya. Akhir ironis ini coba ditranslate Kaufman dengan episode tarian Jake muda meninggal ditikam Jake tua waktu coba merampas kembali pacarnya. Menyaksikan beberapa karya Kaufman awalnya, pasti tidaklah aneh beberapa filmnya penuh daya khayal tinggi dan ‘njlimet’.

Penuh juga surprise plot twist dan jalan cerita tidak biasa dalam beberapa filmnya. Sebutlah saja Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Anomalisa, Being John Malkovich, dan Synecdoche New York. Spesial I’m Thinking of Ending Things, seringkali keadaan kemelut seperti beberapa film seram.

Tetapi, itu ternyata cuman jebakan-jebakan sebab tidak ada apa-apa. Walau sebenarnya, pemirsa teranjur tergiring ke dalam nuansa seram. Sebutlah saja saat Lucy mengotot masuk di dalam ruangan bawah tanah yang sempat dilarang keras Jake. Ia selanjutnya cuman mendapati baju-baju seragam petugas kebersihan dalam mesin pencuci.

Anehnya, Kaufman berasa tidak begitu perduli berusaha memberikan ‘guncangan pikiran’ ke beberapa pemirsa di beberapa filmnya. “Saya tidak ketarik dengan plot twist di film. Saya pun tidak begitu ketarik jaga suspense ketegangan dalam film. Untuk saya itu usaha yang begitu bodoh.”

“Saya cuman coba membuat ulangi dalam pemikiran saya selaku eksplorasi watak dari satu jalinan dengan beberapa ide mengenai daya ingat, kemauan, kesepian, dan isolasi selaku suatu hal yang gerakkan Anda lewat narasi,” kata Kaufman diambil dari LATimes.

Kaufman juga pernah menyebutkan, kreasinya adalah film seram psikis. “Ini bukanlah jenis film. Ini mengenai kengerian bermacam komponen mental manusia, kehidupan manusia tersebut,” katanya.

Kaufman tidak ingin begitu membawa imajinasi pemirsa pada suatu ide yang ia paksakan dari awalnya sampai akhir filmnya. Kebalikannya, ia pengin biarkan pemirsa melepaskan tiap pemikiran, angan-angan, bahkan juga pengalaman batin unik di filmnya.

Untuk saya melihat I’m Thinking of Ending Things sempat membuat saya terjerat pada kondisi bingung: lagi melayani rasa ingin tahu saya, atau menyudahinya sebab begitu berat. Film ini adalah salah satu rekomendasi film terbaik 2020 yang masih layak untuk di tonton dan sudah bisa streaming di situs nonton film favoritmu.