Film

Review Film Lemantun Karya Wregas 2014

film pendek Lemantun

Ekstratime.com – Dalam Bahasa Jawa, Lemantun berarti lemari, dan dalam film benda ini merupakan sebuah warisan yang diberikan seorang ibu untuk lima anaknya. Lemari yang dijadikan warisan tersebut terdengar tidak begitu istimewa, namun film Lemantun mengajak penonton melihat makna di balik lemari tersebut.

Masalah mulai dihadapi keluarga tersebut kala Tri, salah satu anak dari pemilik lemari kebingungan saat harus mengangkat lemari tersebut. Bagaimana penyelesaian masalah ringan tersebut lah yang kemudian menjadi daya pikat film pendek ini.

Ini merupakan kisah keluarga Wregas, sang sutradara. Lemantun merupakan persembahkan tugas akhir masa studi S-1 di FFTV Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Setelah dipertontonkan sebagai tugas akhir, film pendek berdurasi 23 menit ini mendapat banyak apresiasi, dan mengukir jejak prestasi dengan meraih penghargaan dari berbagai festival film. Film ini diputar pada acara Jogja Asian-Netpac Film Festival (JAFF) 2014.

film pendek Lemantun 1

Berganti tahun, film karya Wregas ini justru maraton menyabet berbagai gelar penghargaan. IKJ mencatat bahwa Lemantun mendapat trofi Piala Maya 2015 untuk Film Pendek Terbaik dan Film Pendek Fiksi Terbaik XXI Short Film Festival 2015 pilihan Juri Indonesian Motion Picture Associations (IMPAS).

Aktor-aktor yang bermain dalam Lemantun merupakan pemain karakter senior dari skena seni peran di Jawa Tengah. Selain Lemantun, Wregas juga pernah tergabung dalam produksi sejumlah film layar lebar seperti Senyawa (2012) dan Sokola Rimba (2013). Di kedua proyek tersebut, Wregas menjadi asisten sutradara, bekerja sama dengan duet sineas Riri Riza dan Mira Lesmana.

Review Film Lemantun

Seandainya kita kangen keluarga di tengah-tengah perantauan, film ini menjadi satu penawar visual untuk meredakannya. “Lemantun” sukses menggondol penghargaan film pendek terhebat di XXI Short Film Festival 2015 dan film pendek terhebat di Animo Film Indonesia 2015. Nilai dari film ini bukanlah cuman pada menangnya yang menarik perhatian, tetapi dari ide Wregas Bhanuteja yang tervisualisasi secara baik.

Kata kita : “Lemantun” bermula dari kemauan seorang ibu yang pengin memberikan peninggalan bukan berbentuk uang atau tanah, tetapi almari, ke anak-anaknya yang lagi tiba. Setiap kali anak-anaknya lahir, si ibu beli satu almari dan dia pengin lemari-lemari peninggalan ini dibawa langsung oleh anak-anaknya pada hari itu juga. Ini pasti tidak perlu dicemaskan untuk Eko, Dwi, Yuni dan Anto, empat dari 5 anak si Ibu yang sudah tiba dengan kendaraan mereka, entahlah itu mobil individu atau kendaraan sewaan. Tetapi bagiamana dengan Tri, si anak tengah yang bahkan juga punyai belum punyai rumah sendiri, akan dibawa kemanakah almari itu?

Baca:  5 Film Pendek Terbaik 2020 Yang Gemparkan Indonesia

Film ini dibungkus secara mendalam. Karakter visual yang melankolis memang lumayan berasa dalam film garapan tahun 2014 ini, jalan ceritanya simpel dengan build up yang cukup memerlukan waktu. Tidak cuma melipur, film ini tinggalkan endapan yang mengganggu sesudah usai dilihat. Film ini diadaptasi dari cerita riil yang diubah dengan si sutradara sendiri.

Kepiawaian seorang Wregas Bhanuteja benar-benar berasa dalam film ini, nampak dia sukses dalam lakukan pendekatan yang warm dan alami pada tiap figur. Tampil satu kesan-kesan halus pada tiap frame yang disuguhi. Dalam “Lemantun”, beberapa pemain film diputuskan berdasarkan casting to emotional temperament, yang memprioritaskan artis atau artis dengan representasi kecocokan emosi dan tempramen sama figur yang akan dimainkannya. Treatment ini menguasai dan diuraikan secara riil.

Pendekatan ini nampak dari penitikberatan pada figur Tri yang tidak cuma punya pengaruh ke jalur, tetapi tumbuh dari ikatan emosional di antara watak Tri dengan Pakdhe Wregas sendiri.

Emosi dari Tri bisa kita alami waktu dia jadi bingung ke mana almari kepunyaannya akan dibawa, yang menyebabkan dianya untuk masuk ke almari yang diberi ibunya. Di episode ini, pemirsa diundang untuk turut terenyuh mengasihani Tri sekalian mencerminkan kembali lagi kehidupan keluarga mereka semasing. Hingga menunjukkan jika treatment dari si sutradara bisa tersampaikan secara baik, di mana beberapa watak figur sukses menunjukkan ikatan emosional yang bagus di muka camera.

Sinematografi Film Lemantun

Dari segi Sinematografi, Leontius Tito sebagai Director of Fotografi menjelaskan film ini dengan alami light yang disamakan dengan kehidupan setiap hari. Subjective Shot sering diambil dan memberikan ada kesan-kesan simbolik dibalik objek-objek dalam film “Lemantun”.

Baca:  Review Film Balik Jakarta 2017

Disamping itu, di film ini jarang-jarang ada movement aktif, hingga tawarkan kenyamanan untuk siapakah yang melihat. Editing-nya juga nampak tidak begitu mengubah warna aslinya, cuman nampak permainan saturasi yang ada pada visual film ini. Scoring dalam film ini berkesan simpel, cuman ada satu lantunan musik melankolis diakhir film.

Wregas sendiri menjelaskan satu point yang pengin di implikasikan lewat film ini ialah peninggalan almari selaku lambang dari kandungan. Diakhir film, ada trek out yang mendeskripsikan Tri yang dengan ikhlas memapah ibunya, adegam ini disenandungi juga dengan satu suara yang melankolis. Secara alegoris, tata camera selanjutnya menitikberat pada peninggalan lemari-lemari yang lain tidak digunakan. Lambang kandungan ditinggalkan tidak terurus oleh beberapa anak yang lain si Ibu.

Berlainan yang lain, Tri juga mengalih peranankan almari itu dengan sebagus-baiknya, yakni selaku teras yang dapat mempermudah kerjanya selaku penjual bensin. Kadang peninggalan “simpel” makin lebih berarti saat kita mensyukuri dan betul-betul menghargakan nilai dari peninggalan itu, juga memakainya di kehidupan kita setiap hari.

Lemantun sanggup bawa situasi yang melankolis di akhir set, dengan pemikiran Tri selaku anak ke-3 yang cuman profesinya selaku pejual bensin.

Ini menyentuh ketimpangan dan rekanan berbeda antar-saudara dalam yang belomba karena posisi sosialnya. Pembagian harta waris berbentuk almari ialah langkah Wregas mengutarakan begitu warga kita menyepelekan figur seperti Tri, lelaki penjual bensin—tak perduli berapa besar baktinya ke orangtua.

Film ini benar-benar pas dilihat sendiri atau dengan keluarga di dalam rumah. Keluwesan beberapa watak di film ini akan bawa kita selaku pemirsa akan terikut dalam situasi. Dan, visual yang simpel yang simbolis yang akan memberi penegasan berarti dalam menontonnya.

Lemantun, sebagai karya penyutradaraan Wregas bisa disaksikan secara legal di Youtube.